COMPANY NEWS

4 weeks ago

NEWS

Mudik Gratis Bersama Loyalitas Penjual Jamu 2017

JAMU JAGO - SEMARANG - Selama ini diketahui bahwa Jamu sangat lekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Khasiat jamu sendiri sudah dipercaya sejak nenek moyang hingga kini. Salah satu produsen jamu terbesar di Indonesia yang masih berjaya hingga saat ini adalah Jamu Jago. Menjelang usianya yang ke 100 tahun, Jamu Jago tetap konsisten dengan pengabdiannya di bidang pelayanan masyarakat. Sebagai bentuk apresiasi terhadap penjual jamu yang turut serta melestarikan keberadaan Jamu, maka Jamu Jago kembali memberikan layanan mudik gratis yang sudah menjadi tradisi Jamu Jago sejak tahun 1988, mudik gratis tahun ini di ikuti oleh 2.124 penjual jamu jago dengan tujuan beberapa daerah di Jawa Tengah. Seperti tahun-tahun sebelumnya, mudik gratis yang diadakan Jamu Jago dilakukan dengan pola jempu bola dengan menggunakan sebanyak 59 armada bus. Para penjual jamu akan dijemput dilokasi kumpul yang sudah ditentukan. Yakni wilayah Tangerang, Jakarta, Bekasi, Bandung, Cikampek dan Cirebon. Lokasi penjemputan di wilayah Tangerang dilaksanakan di Depan Masjid Raya Al-Azhom, Kota Tangerang, Bandung di Samping Swalayan BORMA- Rancabalong, Cikampek di Showroom Hino, Jalan Sudirman, Cirebon dijemput di Perum Serayasa V. Di Jakarta sendiri ada beberapa titik penjemputan, yakni di Swalayan Hari-hari, Pasar Bintara, Masjid Raya Palapa, Masjid Agung Cilengsi dan Lubang Buaya. Pemberangkatan dibagi menjadi dua tahap. Pemberangkatan pertama dilaksanakan pada 15 Juni 2017 dengan tujuan Wonogiri dan Sukoharjo. Sedangkan pemberangkatan kedua dilaksanakan pada 17 Juni 2017 dengan tujuan sama yakni Wonogiri dan Sukoharjo. Jamu Jago mengadakan mudik gratis ini untuk mengapresiasi para penjual jamu dengan menyediakan fasilitas kemudahan, keamanan, kenyamanan serta disubsidi. Selain itu, dengan adanya mudik gratis ini diharapkan dapat melestarikan budaya Indonesia saat lebaran yang sudah dilakukan secara turun temurun.
11 months ago

NEWS

Gebrakan Generasi ke-4 Jamu Jago

Perusahaan keluarga jarang yang bisa bertahan lebih dari tiga generasi. Bisa saja di tangan generasi pertama perusahaan itu tumbuh pesat dan menjadi besar, tetapi kemudian meredup di generasi kedua. Berbeda dari perusahaan keluarga pada umumnya, PT Jamu Jago, produsen jamu yang berdiri sejak 1918, mulus melakukan regenerasi hingga generasi keempat. Hal itu ditandai dengan naiknya Ivana Lucia (30 tahun) ke kursi Direktur Utama PT Jamu Jago pada 2010, menggantikan posisi Jaya Suprana — yang tenar sebagai musisi dan pencetus kelirumologi serta pendiri Museum Rekor Indonesia (MURI). Di bawah komando Ivana, baru-baru ini Jamu Jago meluncurkan produk perawatan bayi Bebe Roosie. Ini merupakan minyak telon dalam bentuk krim yang dikemas dalam botol tube. Ivana mengklaim Bebe Roosie merupakan minyak telon pertama di Indonsia, bahkan di dunia, yang dibuat dalam bentuk krim. Begitu diluncurkan, produk ini langsung menarik perhatian pasar. Permintaan akan produk telon krim ini terus meningkat. “Produk ini baru kami luncurkan tahun ini dan permintaan pasar sangat bagus,” tutur lulusan Teknik Kimia Universitas Parahyangan, Bandung, ini. Bahkan, produk ini mampu menembus pasar mancanegara, antara lain Jepang dan China. Peluncuran produk baru seperti menjadi tradisi di setiap pergantian generasi di lingkungan Jamu Jago. Setiap ganti generasi selalu ditandai dengan kemunculan produk baru yang kemudian menjadi unggulan dan sangat laris di pasaran. Tahun 2010 memang tercatat sebagai salah satu tahun regenerasi dalam sejarah perjalanan bisnis Jamu Jago. Yang pertama tahun 1936, ketika T.K. Suprana sebagai pendiri perusahaan jamu yang semula berpusat di Wonogiri, Jawa Tengah, menyerahkan tampuk kepemimpinan perusahaan kepada keempat anaknya, yaitu Anwar Suprana, Panji Suprana, Lambang Suprana dan Bambang Suprana Regenerasi kedua kalinya terjadi pada 1978. Di sinilah para cucu atau generasi ketiga mulai berperan dalam menjalankan perusahaan. Mereka adalah Jaya Suprana, Sindu Anwar Suprana, Monika Suprana, Nugraha Suprana, Suryohadiwonoto dan Sena Karjadi. Di tangan generasi ketiga ini, perkembangan Jamu Jago terbilang pesat. Generasi ketiga ini terbilang cukup kreatif. Selain sukses membangun pabrik baru seluas 3 hektare di Srondol, Semarang, mereka juga membuat MURI, mendirikan Pusat Litbang Jamu Jago yang kemudian menghasilkan aneka produk jamu yang sukses di pasaran. Produk jamu hasil kreasi generasi ketiga ini antara lain Buyung Upik, Basmingin, Purwoceng, Sayuri dan Esha. Setelah menjalankan tugas tiga dasawarsa lebih, tahun 2010 para cucu meletakkan jabatan untuk diserahkan kepada generasi keempat. Selain Ivana, ada Arya Suprana (Direktur Degefarm), Vincen Suprana (Direktur Pemasaran Jamu Jago), Tatum Suprana, dan Andoyo Lim yang mengurusi keuangan perusahaan. Ivana menghadapi tugas berat untuk mengibarkan bendera Jamu Jago lebih tinggi lagi di kancah bisnis nasional. Dan, itu tidak mudah mengingat saat ini ada tren penurunan konsumsi jamu, seiring denngan naik daunnya suplemen minuman energi. “Salah satu tugas yang diberikan kepada saya adalah tetap mempertahanan tradisi minum jamu di masyararakat,” tuturnya. Untuk mengatasi penurunan tradisi minum jamu, para produsen jamu terus berlomba menciptakan produk yang bisa diterima masyarakat. “Intinya, kami harus kreatif dan inovatif untuk menghasilkan produk jamu yang bisa diterima masyarakat,” Ivana menegaskan. Dan, inovasi itu diwujudkan dalam produk baru yang digandrungi pasar: Bebe Roosie. Menurut Ivana, peluncuran Bebe Rosie merupakan terobosan baru untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan minyak telon khusus bayi dalam bentuk berbeda. Selama ini, minyak telon berupa cairan yang dikemas dalam botol plastik atau kaca. Ivana pun mengerahkan tim R&D untuk membuat produk minyak telon yang tampil beda dari yang ada di pasaran. Melalui berbagai uji coba, lahirlah minyak telon dalam bentuk krim. “Kami membutuhkan riset yang mendalam untuk menghasilkan telon krim,” ujarnya. Telon krim memang menjadi pilihan, setelah melihat kelemahan minyak telon cair kemasan botol, yaitu mudah tumpah dan kemasannya bisa pecah. “Telon krim merupakan solusi dari banyaknya keluhan terhadap minyak telon cair yang mudah tumpah dan pecah kemasannya,” kata Ivana. Saat ini ia juga telah menyiapkan beberapa produk untuk segera diluncurkan. “Tunggu saja pada saatnya nanti, kita akan terus meluncurkan produk baru,” ujar perempuan yang baru saja mengakhiri masa lajangnya ini.(*) Didin Abidin Masud & Gigin W. Utomo (Yogyakarta)
11 months ago

NEWS

Rahasia Sukses Perusahaan Jamu Jago Memenangkan Persaingan

Oleh: Vincent Suprana, Product Manager Coordinator PT Jamu Jago TRIBUNJATENG.COM - Kami kaget ketika menerima kabar tersebut. Nyonya Meneer sebagai salah satu perusahaan jamu tertua dan besar di Indonesia sangat disayangkan mengalami permasalahan seperti itu. Kalau Air Mancur jika dibeli asing ada tambahan investasi kemungkinan bisa lebih berkembang. Situasi perusahaan jamu di Indonesia kebanyakan merupakan bisnis keluarga yang kadang manajemen tidak bisa dijalankan secara profesional. Kondisi dua perusahaan tadi setidaknya menjadi warning buat kami untuk terus bekerja keras lagi. Inovasi harus terus dilakukan agar produk kami selalu diterima masyarakat. Tiap generasi di Jamu Jago berjalan sangat rukun penuh kekeluargaan. Hal ini sudah dibina dari keluarga sebelumnya. Generasi dua, sangat dekat, sering kumpul sampai tua. Begitu juga generai tiga dan generasi empat. Kami penginnya masalah diselesaikan secara kekeluargaan. Jika ada perbedaan pendapat kemudian diomongkan. Jika tidak ada titik temu, direktur utama yang memutuskan. Meski kekeluargaan, tetap berjalan sesuai struktur. Jamu Jago kini sudah dijalankan generasi keempat. Manajemen pun sudah dijalankan secara profesional. Meski kami juga bisnis keluarga tapi di generasi keempat ini kami berusaha jalankan secara profesional bukan sebagai pemilik keluarga. Kalau kami tidak bisa perform, kami tidak akan berada di internal perusahaan. Struktur sudah jelas sehingga kami berusaha jangan sampai seperti yang lain. Beberapa perusahaan baru juga mulai gencar memasarkan produk jamu. Hal ini menandakan industri jamu masih bisa berkembang dan peluang masih terbuka lebar. Meski ada gempuran jamu kimia dan produk herbal Tiongkok, kami tidak terlalu khawatir. Jamu masih punya peluang. Kami terus mencari inovasi produk sesuai kondisi masyarakat yang lebih modern. Kami juga lakukan inovasi dalam membuat kemasan dan desain yang lebih menarik. Untuk menjangkau masyarakat memperoleh jamu, Jamu Jago mendirikan gerai Rumah Jamu di tiga titik yakni di Kota Semarang dan Solo serta mempunyai mobil Jamu di Jakarta dan Semarang. Rencana tahun ini, Jamu Jago akan menambah empat gerai Rumah Jamu di Jakarta dan Surabaya. Sedangkan untuk mobil jamu ditambah dua unit di Jakarta dan Semarang. Gerai Rumah Jamu di Solo kami tempatkan di sebuah pusat perbelanjaan modern sehingga masyarakat bisa mudah mendapatkan jamu. Fungsinya bukan hanya untuk jualan, juga edukasi. Bahwa jamu itu enak, bukan sekadar rasa pahit. Penempatan di pusat perbelanjaan juga untuk mengubah image bahwa jamu bisa dikonsumsi semua kalangan. Responsnya bagus, ternyata bisa diterima. Selain itu, pihak Museum Rekor Indonesia berencana membuat event tentang jamu dari zaman dahulu hingga sekarang. Akan ada cerita dan workshop tentang jamu seperti apa. Nanti juga akan ditampilkan cara meracik jamu ala bartender. Kami ingin mengingatkan kembali jamu ke masyarakat dengan cara modern. Terkait suplai bahan baku, kami mengalami beberapa kendala seperti pasokan madu randu. Hal ini akibat petani madu randu gagal panen dan kelangkaan pohon randu. Ketika ada kendala tersebut, maka kami harus memanajemen saja. Kami harus siap-siap dengan menyiapkan tempat penyetokan atau mengubah madu agar bisa dikemas dalam bentuk lain untuk mudah disimpan. Sehingga kami tidak kekurangan bahan baku. Kami juga telah kerjasama dengan Universitas Diponegoro untuk penelitian jamu asam urat. Juga kerjasama dengan BPPT untuk formula baru. Saat ini produk tersebut sudah masuk grade obat herbal standar. Tapi kami ingin jadikan produk ke fitofarmaka yang saat ini jumlahnya masih dihitung dengan jari. Untuk produk baru, kami masih melakukan inovasi untuk kalangan remaja. Kami masih missing produk untuk remaja. Masih ada gap antara produk anak-anak dengan produk orang dewasa. Kami sudah punya jamu untuk menghilangkan jerawat, tapi kami masih ingin membuat produk lain. Menurut saya, selalu berinovasi kunci kami bisa bertahan hingga sekarang. (tribun jateng cetak)
11 months ago

NEWS

Wawancara Khusus dengan Ivana Suprana Dirut PT Jamu Jago

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG- Mempertahankan perusahaan, terlebih lagi usaha keluarga yang sudah memiliki nama besar, diakui Ivana Suprana tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebagai generasi keempat, dia tidak ingin sekadar melanjutkan. Ivana ingin, PT Jamu Jago tetap mendapat tempat di hati pelanggan dan membuat generasi muda suka minum jamu. Bagaimana usaha Direktur Utama PT Jamu Jago Ivana Suprana mewujudkannya? Berikut hasil percakapan wartawan Tribun Jateng Deni Setiawan dan M Syofri Kurniawan, belum lama ini. Kira-kira apa yang mendasari generasi ketiga (Jaya Suprana dkk –Red) mempercayakan kepemimpinan perusahaan ini kepada Anda? Jujur, saya tidak tahu kenapa saya yang ditunjuk menggantikan Pak Jaya Suprana sebagai Direktur Utama. Tapi, lepas dari alasan utama, saya dianggap dapat menjembatani generasi ketiga dan generasi sekarang. Bisa mengomunikasikan apa yang menjadi keinginan beda generasi itu. Benar tidaknya, saya tidak tahu. Sayapun berusaha memegang kepercayaan yang diberikan keluarga itu. Sesuai prinsip, pemangku kepemimpinan memang harus orang dalam (keluarga), tidak diperkenankan orang lain memegang jabatan ini. Ketika ditunjuk sebagai Direktur Utama PT Jamu Jago pada 2010 lalu, saya juga sudah menjadi bagian perusahaan. Saya bergabung sejak 2007 di bagian produksi. Saat penunjukan itu, selain saya, ada Pak Arya Suprana (kini menjabat Direktur Utama Degepharm –Red). Langkah pertama apa yang Anda lakukan sebagai Direktur Utama? Saya tidak menutup mata apabila mayoritas karyawan di perusahaan termasuk senior. Dari sekitar 600-800 karyawan yang ada sekarang, 80 persen masuk kategori senior. Baik dari segi usia hingga lama mengabdi di perusahaan yang didirikan TK Suprana pada 1918 ini. Ini tantangan pertama yang harus saya selesaikan. Saya butuh perubahan yang tetap menjunjung tinggi profesionalisme perusahaan. Yang saya lakukan, melakukan pendekatan humanis ke satu per satu karyawan dan intens menjalin komunikasi. Dalam setiap kesempatan itu, saya mengajak mereka berbuat sesuatu yang berbeda demi mempertahankan kemajuan perusahaan dan bersiap menghadapi persaingan di depan. Puji syukur, secara bertahap, langkah tersebut berhasil. Bahkan, hubungan kami terjalin akrab tanpa memandang status atasan maupun bawahan. Apa yang Anda pikirkan tentang PT Jamu Jago, dahulu, sekarang, dan esok? Jamu Jago bertempur di industri kesehatan selama empat generasi. Kesuksesan maupun kebesaran yang didapat saat ini tentu tidak terlepas dari para pendahulu. Misal, di generasi kedua, Pak Panji Suprana yang secara bisnis mampu melesatkan perusahaan menjadi semakin dikenal masyarakat hingga 1983. Setelah itu, semakin berkembang saat dipimpin Pak Jaya Suprana yang memasarkan dan mengenalkan produk secara kreatif sehingga mampu berkompetisi. Meski perusahaan sudah berkembang, ada satu prinsip atau falsafah hidup dan kerja yang wajib dipegang sampai kapanpun, yakni Ojo Dumeh. Itu yang kami yakini bisa membuat perusahaan ada dan bakal tetap ada hingga esok. Kini, saya di generasi keempat. Saya bersama Arya Suprana (Direktur Utama Degepharm), Tatum Suprana (Direktur Human Resource Jamu Jago), Andoyo (Direktur Keuangan Jamu Jago), dan Vincent Suprana (Product Manager Coordinator Jamu Jago) pun tidak ingin menerima apa yang sudah ada. Kami bersepakat sejak awal, akan selalu berinovasi dalam produk. Memberikan perubahan yang bermanfaat secara luas. Inovasi apa saja yang telah Anda lakukan di Jamu Jago, sejak 2010 hingga saat ini? Inovasi yang konkret terlihat adalah produk. Setidaknya, ada tiga produk yang berhasil dikembangkan di kepemimpinan saya. Ketiganya, minyak telon cream Bebe Roosie, obat pria Purwoceng Xtra, dan sirup anak Buyung Upik. Semua produk tersebut dikemas melalui teknologi terkini agar menarik konsumen. Tentu saja, unsur jamu tetap ada di ketiganya. Bahkan, mayoritas bahan baku yang digunakan tradisional. Arti lain, produknya modern tetapi tetap berbahan lokal dan dijamin tidak menggunakan bahan kimia sedikitpun. Hasilnya, kami terus mengalami pertumbuhan 20-30 persen per tahun. Saat ini, setidaknya ada 170 item jamu yang diproduksi PT Jamu Jago dan dipasarkan di seluruh pelosok tanah air. Visi utama saya, membuat semakin banyak orang, khususnya generasi muda, tidak lagi malu minum jamu. Bagaimana nasib produk jamu jaman dulu (jadul), apakah masih laku di pasaran? Kami tetap mempertahankan dan memroduksi produk lama. Hanya, pengemasannya yang berubah. Kami tidak mau dianggap durhaka. Bagaimanapun, setiap produk punya segmen tersendiri. Di tiap generasi pun, ada produk yang kuat. Misal, untuk produk yang dianggap lawas, jamu pria EsHa cukup populer. Begitu juga produk untuk anak-anak yang lebih kuat Buyung Upik. Kami juga tetap memertahankan produk seduh. Karena di Jawa Timur, bentuk seduh Jamu Jago yang menguasai pasar jamu. Sedangkan di Jawa Barat dan Jawa Tengah, produk yang paling disuka jamu yang dijajakan melalui gendongan. Fakta itu pula yang memberikan rasa optimistis sekaligus apreasiasi kami kepada konsumen di tanah air. Harapannya, tentu semakin banyak yang suka minum jamu. Pernahkah terjadi konflik keluarga yang kemudian mengganggu stabilitas kerja di perusahaan? Jamu Jago, secara langsung, merupakan tempat menimba banyak pelajaran. Bagaimana kami harus membesarkan bisnis keluarga tanpa terjadi konflik, itu pun menjadi pelajaran yang selalu diperoleh dari generasi ke generasi. Pelajaran utama, menjunjung tinggi dan mengacu pada falsafah Jawa. Di antaranya, “mangan ora mangan sing penting kumpul” dan “rukun agawe santoso”. Falsafah tersebut tidak sekadar simbol atau makna tertulis di perusahaan tetapi acuan dasar di setiap perilaku kami. Dari memegang teguh falsafah itu, tidak pernah ada cerita kami, gerenasi penerus, saling berebut kekuasaan yang menimbulkan konflik. Fungsi musyawarah dalam keluarga terus dilakukan di setiap forum. Ini pencegah perpecahan paling jitu dalam benturan kepentingan maupun konflik internal. Apa obsesi yang ingin Anda capai melalui jamu? Sepele namun wajib terealisasi sebelum saya lengser dari kursi kepemimpinan, saya ingin perusahaan jamu semakin diperhitungkan sebagai perusahaan kebanggaan Indonesia. Tidak muluk-muluk, diawali di tingkat Indonesia terlebih dahulu. Setelah populer, baru di dunia internasional. Terus terang, setiap mendengar beberapa pihak, terutama pemerintah yang merasa malu menyebut nama “jamu”, saya menjadi orang yang rewel dan bakal banyak berkomentar. Tidak ada salahnya jika kata “jamu” lebih digaungkan. Tidak perlu menggunakan kata-kata herbal atau lainnya. Prinsip, jamu dan herbal itu beda. Apalagi, sebentar lagi, Indonesia berpartisipasi di Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), Asean Free Trade Area (AFTA), atau pasar bebas. Ini waktunya mempersiapkan diri dan meneguhkan jiwa cinta produk dalam negeri. Jamu pun produk kebanggaan Indonesia karenanya jangan dipandang sebelah mata. Prinsip utama, 'Jamu Indonesia, Penguasanya Indonesia'. Dari sisi bisnis, bagaimana prospek perusahaan jamu di Indonesia ke depan? Hingga saat ini, saya sangat yakin dan bertambah yakin prospek jamu di Indonesia bagus dan semakin membaik. Apalagi, tingkat kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan meningkat. Satu caranya, melalui konsumsi jamu. Mereka sadar, menjadi sehat itu sangat mahal. Ketika sakit, tidak sedikit uang yang harus dirogoh untuk membeli obat yang semakin mahal. Bukti lain, perusahaan farmasi berangsur-angsur masuk ke industri jamu yang kemudian dikemas dalam bentuk herbal. Jamu bukan sesuatu yang jelek. Jamu justru sangat baik untuk kesehatan dan dapat dimanfaatkan. Yang terpenting, mereka dapat memilih dan mawas diri, jangan sampai dikacaukan jamu instan yang sempat menggegerkan perusahaan jamu pada 1990-an lalu. Menurut Anda, sudahkan pemerintah memberi support terhadap keberlangsungan perusahaan jamu? Dapat saya katakana, (pemerintah) belum sepenuhnya (mendukung). Tetapi, akhir-akhir ini, ada perkembangan baik. Pemerintah mulai pro nasib perusahaan jamu. Informasi terakhir, pemerintah bersama Gabungan Pengusaha (GP) Jamu Indonesia sedang mengusahakan jamu masuk ke daftar UNESCO, setelah batik dan angklung. Lalu, Badan Pengawasan Obat dan Minuman (BPOM) juga berkomitmen bakal secara intens mengawasi penjualan jamu di pasaran dan menindak tegas keberadaan jamu ilegal. Harapan saya, semua yang sedang dilakukan bersama demi mempertahankan dan memajukan perusahaan jamu di Indonesia ini dapat semakin nyata. Sehingga, jamu kembali memasyarakat di berbagai generasi. Bagaimanapun dan wajib diakui, jamu merupakan produk asli Indonesia. Minum jamu, berarti cinta produk Indonesia. (*)