TRIBUNJATENG.COM – Kami kaget ketika menerima kabar tersebut. Nyonya Meneer sebagai salah satu perusahaan jamu tertua dan besar di Indonesia sangat disayangkan mengalami permasalahan seperti itu. Kalau Air Mancur jika dibeli asing ada tambahan investasi kemungkinan bisa lebih berkembang. Situasi perusahaan jamu di Indonesia kebanyakan merupakan bisnis keluarga yang kadang manajemen tidak bisa dijalankan secara profesional. Kondisi dua perusahaan tadi setidaknya menjadi warning buat kami untuk terus bekerja keras lagi. Inovasi harus terus dilakukan agar produk kami selalu diterima masyarakat. Tiap generasi di Jamu Jago berjalan sangat rukun penuh kekeluargaan. Hal ini sudah dibina dari keluarga sebelumnya. Generasi dua, sangat dekat, sering kumpul sampai tua. Begitu juga generai tiga dan generasi empat. Kami penginnya masalah diselesaikan secara kekeluargaan. Jika ada perbedaan pendapat kemudian diomongkan. Jika tidak ada titik temu, direktur utama yang memutuskan. Meski kekeluargaan, tetap berjalan sesuai struktur. Jamu Jago kini sudah dijalankan generasi keempat. Manajemen pun sudah dijalankan secara profesional. Meski kami juga bisnis keluarga tapi di generasi keempat ini kami berusaha jalankan secara profesional bukan sebagai pemilik keluarga. Kalau kami tidak bisa perform, kami tidak akan berada di internal perusahaan. Struktur sudah jelas sehingga kami berusaha jangan sampai seperti yang lain. Beberapa perusahaan baru juga mulai gencar memasarkan produk jamu. Hal ini menandakan industri jamu masih bisa berkembang dan peluang masih terbuka lebar. Meski ada gempuran jamu kimia dan produk herbal Tiongkok, kami tidak terlalu khawatir. Jamu masih punya peluang. Kami terus mencari inovasi produk sesuai kondisi masyarakat yang lebih modern. Kami juga lakukan inovasi dalam membuat kemasan dan desain yang lebih menarik. Untuk menjangkau masyarakat memperoleh jamu, Jamu Jago mendirikan gerai Rumah Jamu di tiga titik yakni di Kota Semarang dan Solo serta mempunyai mobil Jamu di Jakarta dan Semarang. Rencana tahun ini, Jamu Jago akan menambah empat gerai Rumah Jamu di Jakarta dan Surabaya. Sedangkan untuk mobil jamu ditambah dua unit di Jakarta dan Semarang. Gerai Rumah Jamu di Solo kami tempatkan di sebuah pusat perbelanjaan modern sehingga masyarakat bisa mudah mendapatkan jamu. Fungsinya bukan hanya untuk jualan, juga edukasi. Bahwa jamu itu enak, bukan sekadar rasa pahit. Penempatan di pusat perbelanjaan juga untuk mengubah image bahwa jamu bisa dikonsumsi semua kalangan. Responsnya bagus, ternyata bisa diterima. Selain itu, pihak Museum Rekor Indonesia berencana membuat event tentang jamu dari zaman dahulu hingga sekarang. Akan ada cerita dan workshop tentang jamu seperti apa. Nanti juga akan ditampilkan cara meracik jamu ala bartender. Kami ingin mengingatkan kembali jamu ke masyarakat dengan cara modern. Terkait suplai bahan baku, kami mengalami beberapa kendala seperti pasokan madu randu. Hal ini akibat petani madu randu gagal panen dan kelangkaan pohon randu. Ketika ada kendala tersebut, maka kami harus memanajemen saja. Kami harus siap-siap dengan menyiapkan tempat penyetokan atau mengubah madu agar bisa dikemas dalam bentuk lain untuk mudah disimpan. Sehingga kami tidak kekurangan bahan baku. Kami juga telah kerjasama dengan Universitas Diponegoro untuk penelitian jamu asam urat. Juga kerjasama dengan BPPT untuk formula baru. Saat ini produk tersebut sudah masuk grade obat herbal standar. Tapi kami ingin jadikan produk ke fitofarmaka yang saat ini jumlahnya masih dihitung dengan jari. Untuk produk baru, kami masih melakukan inovasi untuk kalangan remaja. Kami masih missing produk untuk remaja. Masih ada gap antara produk anak-anak dengan produk orang dewasa. Kami sudah punya jamu untuk menghilangkan jerawat, tapi kami masih ingin membuat produk lain. Menurut saya, selalu berinovasi kunci kami bisa bertahan hingga sekarang. (tribun jateng cetak)

